23 Maret 2015

Teman Malam

Lucu rasanya. Gak punya pacar, tapi akhir-akhir ini selalu ada yang nemani berbincang menjelang senyap. Beda hari, beda orang. Ganti hari, ganti topik. Jarang-jarang lho, aku begini. Haha.

Ini cara Allah membahagiakan dan meramaikan malam-malamku lho :D

22 Maret 2015

Sebuah Teknik dalam Metode Perjodohan

Gimana sih, rasanya dikenalkan dengan lawan jenis yang direncanakan akan dijodohkan dengan kita?

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan oleh sepasang manusia itu?
Berpura-pura tidak tahu, bahwa perkenalan itu adalah sebuah ikhtiar menemukan pasangan hidup? Lalu, menjalin pertemanan dengan penuh kepalsuan? Berusaha berbaik sikap untuk mendapatkan simpati? Beuh, rasanya kok gak asik.

Aku setuju dengan metode perjodohan dalam rangka menemukan pasangan hidup. Seperti halnya penelitian ilmiah, setiap metode wajib diiringi dengan teknik-teknik tertentu untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan tujuannya. Nah, teknik apa yang seharusnya dijalankan oleh para pasangan calon yang dijodohkan itu?

Bagi saya, sama-sama tau tujuan perkenalan adalah hal yang penting. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya kepura-puraan. Kalau memang tak suka, bisa katakan. Kalau memang tak cocok, sila uraikan.
Ini yang terjadi pada saya. Sebab pertemanan kami tak pernah membincang tentang itu, maka ketika percakapan berada di ujung tamat kiamat, saya tak bisa berkata apapun. Hubungan kami pun entah akan jadi apa. Aku hanya takut, rasa canggung akan tetap menjadi perasaan kami berdua. Kemudian berpura-pura untuk tidak pernah saling mengenal. Cih.
Lalu saya membayangkan, andai saja di awal perkenalan kami mengutarakan maksud masing2, akan lebih enak untuk kami bisa melepas rasa. Saya bisa mengatakan maaf karena tak bisa melanjutkan perjodohan ini dengan segala alasannya. Pada akhirnya, clear-lah sudah. Masing-masing dari kami tak perlu kikuk jika bertemu lagi nanti. Bahkan bisa jadi kelak akan tertawa terbahak bersama keluarga aku dan dia.

Itu teknik yang pertama.

Teknik yang kedua, bisa jadi memang tak mengutarakan tujuan pertemanan itu. Berhubung saya saat ini tidak setuju dengan teknik tersebut, tak akan saya jelaskan sisi positif dan negatifnya. Daripada nanti ujung-ujungnya ngejelekin teknik ini, kan? Hehe.

Teknik berikutnya? Tunggu ulasan selanjutnya, jika memang saya berminat ya. Sebab saya baru melewati tahap yang pertama. Dan, tulisan ini sepenuhnya adalah bagian dari pengalaman saya :D

Salam cari jodoh! Haha.

(Kapan) Mimpiku akan Terwujud

Aku berniat membuat sebuah komunitas sosial, yang bergelut bersama buku dan anak-anak. Sederhana misinya, yakni mengajak anak-anak untuk membaca.

Hari ini, beberapa hal intern yang diperlukan untuk membentuk komunitas itu telah aku lewati. Namun lagi-lagi, terkendala dengan kemampuan interpersonalku yang tak begitu bagus. Ada rasa enggan menceritakan segala upaya dan mimpi.

Lalu aku terpaku memandang tumpukan buku di sudut ruang. Sungguh aku tak cukup nyali untuk memulai. Allahu rabbi. Laa haula walaa quwwata, illa billahil 'aliyyil 'adzim.

21 Maret 2015

Iya, Aku Pengen Nikah!

Celetukan temen, "yaudalah mbak, mau sampai kapan? Mbak udah gede, harus punya target menikah. Buka dirilah! Masak iya mbak mau, nikah di umur yang berlebih?"

Sederhana, tapi nusuk.

Bukannya aku ga mikir tentang nikah, jodoh, calon suami, calon pacar, calon pasangan, lelaki -apapunlah istilah tetek bengek tentang itu.

Beberapa waktu lalu, aku dikenalkan dengan seseorang. Sebut saja ini dengan aktivitas: rencana perjodohan. Namun entah mengapa, meski aku sudah memikirkan segala hal tentang itu, nyatanya aku belum merasa siap. Ketika pria kenalan itu menghubungiku, menemuiku, dan berbasa-basi; aku merasa jengah. Antara bosan dan gak nyaman. Padahal beberapa saat sebelum aku mengenalnya, aku telah mengutarakan keinginan menikah-ku pada beberapa kawan dekat. Tidak ngotot, tidak pula lunglai. Hanya berucap, "iya, aku pengen nikah" sesekali, seperti yang dilakukan banyak wanita di usia 20-an. Lalu entah mengapa ketika saatnya nyaris mendekat, aku justru menjauh.

Aku percaya lelaki sang jodoh akan memberikan keyakinan penuh pada hati, bahwa ia memang telah dipilihkan-Nya untukku. Dan ini yang tidak aku dapat di pria tersebut. Bukan. Bukan karena ia memperlakukanku dengan buruk. Justru pria itu adalah lelaki baik, pintar, cerdas, bijak, tangguh, pemberani, ramah, sesekali humoris, islami, dan bisa jadi juga menjadi pujaan banyak wanita. Tapi bila rasa yakin itu tak muncul dalam hati, untuk apa aku melanjutkan perjodohan ini? Maka bismillah, kubatalkan, kurenggangkan hubunganku dengannya. Meski aku terus berharap, semoga jalinan silaturahmi kami tetap terjaga.

Semakin hari, pikirku semakin tak keruan. Berbagai cara menghilangkannya, berbagai cara pula ia kembali. Aku berulang kali terpikir, persis seperti yang temanku bilang. Hiks, rencana untukku membuka diri pada pria sepertinya memang belum berhasil. Meski harus kuakui, usahaku ini sedikit banyak telah menunjukkan peningkatan. Ya, mungkin belum saatnya dan barangkali aku memang harus berusaha lebih keras.

Ogahlah ya, menikah di umur yang sudah berlebih? Gak kebayang dengan omongan orang-orang. Toh aku juga ga yakin dengan diriku kelak. Sekarang saja rasanya sudah pengen ditemani, ditunggui. Apalagi beberapa tahun kemudian, ya?

Maka mimpiku, menikah di usia 25 tahun. Itu artinya, aku punya waktu sekitar satu setengah tahun lagi untuk menemukan lelaki pilihan-Nya. Bismillah, semoga kita semua didekatkan dengan jodoh terbaik kita masing-masing ya. Aamiin :)

20 Maret 2015

Allah yang Menuntaskan Janjimu, melalui Mimpi (2)

Aneh-aneh saja dengan kejadian-kejadian hidup ini.

Baru saja aku mengepos tulisan tentangnya, ia membalas pesanku. Tak dinyana, ia ingat dengan perkataan (janji, red) yang aku rasa diucapkannya dengan spontan. Dan kau tau, apa yang ia katakan?

"Yaa, (melalui) mimpi, boleh tidak?"

Aku tertawa. Bukankah itu sudah terjadi, tadi malam? :D

Allah yang Menuntaskan Janjimu, melalui Mimpi (1)

Malam tadi aku bermimpi tentang seseorang yang pernah aku kagumi. Bukan karena ia bijaksana atau hal lain yang juga membuatku kagum dengan orang lain selain dia, tetapi sebab ia adalah barisan pertama yang memberiku harapan. Barisan pertama teman-temanku yang memberiku perhatian. Sebab ia lelaki, maka aku tak patut pula memberi perhatian amat lebih kecuali benar-benar aku menginginkan hidupnya ada padaku. Ini komitmenku, tak perlu disanggah siapapun.

Kemudian saat aku terbangun, aku sadar bahwa mungkin ini adalah barisan hayalanku yang belum terwujud. Maka aku tersenyum, Tuhan mengabulkannya melalui mimpi. Ia bukan muhrimku, maka aku tak boleh berjalan hanya berdua bersamanya. Kecuali dalam mimpi, bukan? :D

Kalau kata orang mimpi adalah alam bawah sadar, maka entah mimpi ini apa artinya. Aku memang baru saja bertemu dengannya secara nyata, dan ia kembali berhasil membuatku melongo atas sikapnya. Suatu kali waktu itu, ia berkata akan menemuiku; mengajakku berjalan-jalan untuk sekedar melepas penat pembelenggu hidup.

Dan (kalau boleh dikatakan sebagai) janji-nya itu, terlaksana malam tadi

lewat mimpi.

Maka, aku akan menganggap janjinya telah lunas sehingga aku tak perlu merengek untuk hal tak penting itu. Allah yang telah menuntaskan janji. Sebab akan ada sederet rasa bersalah jika memang pada akhirnya aku harus pergi berdua bersamanya...

19 Maret 2015

Menggali Cinta

"Menempa untuk terus menempa, kembali menempa untuk mampu menempa. Hingga jiwa tak mampu lagi hidup untuk menempa."

Bismillah, klub belajar Linguistik sudah satu langkah. Masih perlu jutaan langkah untuk ribuan tempaan ilmu. Memperdalam keilmuan, memperluas pengetahuan, sembari menebar kebaikan.

Sementara itu, aku masih rindu buku, anak-anak, dan calon imamku.

18 Maret 2015

Aku yang Lain

Ketika semua terasa redup, aku ingin menjadi diriku yang terang.
Meski kadang saat semua terang, aku memilih untuk meredup.
Tak ada yang perlu disalahkan.
Sebab terkadang kita hanya butuh sesuatu-yang-lain.
Menjadi yang-lain.
Untuk dianggap seperti yang-lain.
Bisa jadi sebagai ungkapan benci terhadap konsistensi, mungkin juga begah terhadap carut marut hidup yang kita buat sendiri.
Maka biarkan aku menjadi yang-lain.
Mencampakkan yang lain untuk kemudian menjadi yang-lain.

Surakarta, 18 Maret 2015.

11 Oktober 2014

OLX dan passion (?)

Meski mengalami kegagalan berulang dalam berjualan di OLX, nyatanya aku tetap bahagia; aku tetap berusaha. Ada suatu kenikmatan tersendiri; kepuasan yang didapat saat berhasil memunculkan sebuah iklan di sana dan menerima beberapa pesan respon atas iklan tersebut. Inikah yang disebut sebagai passion? Dalam batasan apa hal demikian bisa disebut sebagai passion?

Yoris dan beberapa penganut passionisme, menyatakan bahwa sesuatu yang dilakukan dengan senang, tanpa paksaan, meski melalui berbagai rintangan itulah yang disebut sebagai passion. Semenyakitkan apapun hasilnya, sesakit apapun halangannya, tak membuatmu menjadi rapuh. Justru itulah yang akan meningkatkan kreativitasmu untuk kembali mencoba dan terus mencoba.

Lalu, pada saat tepat manakah yang mempertemukan aku dengan passion-ku?

Aku tak bisa membayangkan kebahagiaan macam apa yang akan aku terima saat menyadari bahwa aku memiliki passion atas sesuatu…


I just wannna be free.

3 Oktober 2014

Curcol sambil lalu~

Hai, aku sedang mendekam di Perpustakaan Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta!
-berencana mengerjakan tugas yang bejibun.

Ternyata, menjadi mahasiswa pascasarjana memang tak mudah. Hari aktif kuliah sih tiga hari. Tapi kalau tugas seabrek gini tetap saja wajib 'berkunjung' ke kampus setiap hari. Meski gak sepenuhnya mengerjakan tugas xD

Kan bersilaturahim itu amat penting to? Ketika bertemu kawan di kampus, masak iya mau menghindari obrolan menarik dengan mereka? Haha, ngeles sih kalau ini.

Tak ada yang ingin aku sampaikan di postingan kali ini. Hanya mengeja kata untuk memacu ide saja. Tak perlu dibaca serius juga, ya.

and the last, see ya! :)

2 Oktober 2014

Tak Meredupkan Gemerlap Tuhan

Sembari menjalani waktu, aku berusaha merangkak, meraih gemerlap bintang yang semakin tinggi. Tak ada yang bisa kusesali dengan hidup di rumah mungil ini. Bukankah aku yang meminta pada Tuhan untuk selalu hidup sederhana?

Aku menyesal tanpa peluh. Bahkan hatiku tak juga memerah. Kata seorang teman, aku memucat. Kurang darah, tebaknya. Kalau kalian mengajakku untuk mengganas, aku anggap bahwa itu pun tak perlu. Hidupku sudah cukup indah untuk selalu menemui kebermaknaan. Tuhan yang menjalankan aku.

Sampai bintang itu berlari menjauh, aku masih saja di sini. Meratap tanpa pernah mengerjap. Tuhan selalu membiarkanku begitu. Meski semakin redup gemerlapnya, aku masih saja memercayai bahwa Tuhan mencintaiku dengan cara-Nya. Semoga.

Aku berkehendak kembali ke 'rumah'!

Halo, apa kabar 'rumah' kesekian-ku?
Bahkan aku lama tak menyentuh tuts keyboard dengan penuh rasa.
Sedemikianlah aku merindu; mencoba merangkai kata tanpa peduli asa.
Mungkin sepersekian detik kemudian kau akan melihat mataku berpeluh air mata~
Sungguh aku merindu!

Apa yang perlu aku lakukan saat kembali ke 'rumah'?

Haruskah aku berlari, memeluk, hingga bersimpuh di hadapannya;
menjelaskan segunung perjalanan kehidupan selama 'merantau';
menceritakan kepuasan-kepuasan nikmat Tuhan;
atau hanya bersedih menunduk sembari menepuk 'pundak'nya?
-yang barangkali 'rumah' itu juga merindukanku?

Sejatinya aku benar-benar memberimu pertanyaan,
maka sampaikanlah jawabanmu.

Saat ini aku sudah di:
Surakarta, 2 Oktober 2014.

7 Januari 2014

Lomba Menulis Kisah Inspiratif 'Berbagi Hati'


Dalam rangka menyambut ulang tahun Komunitas Jendela yang ketiga pada tanggal 12 Maret 2014 nanti, kami mengadakan lomba menulis kisah inspiratif dengan tema 'Berbagi'. Dua puluh kisah inspiratif terbaik akan diterbitkan dalam sebuah buku antologi berjudul "Berbagi Hati". Hasil penjualan buku ini seluruhnya akan digunakan untuk dana pendirian perpustakaan atau dana pendidikan anak-anak kurang mampu oleh Komunitas Jendela.

Syarat dan Ketentuan Lomba
  1. Peserta lomba umum dan tidak dibatasi umur.
  2. Tulisan berupa kisah inspiratif dengan tema 'Berbagi'. Diutamakan cerita yang ditulis berdasarkan kisah nyata, baik dialami sendiri oleh penulis maupun orang lain.
  3. Naskah asli, bukan jiplakan atau saduran dan belum pernah dipublikasikan di media cetak ataupun online. Semua tulisan akan dicek dengan copyscape. Jika terbukti bukan naskah/tulisan asli dan pernah dipublikasikan, kepesertaan akan dianggap gugur.
  4. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia. Panjang tulisan 7--10 halaman kwarto, font Times New Roman 12, spasi 1,5. Cantumkan biodata singkat di halaman terakhir naskah.
  5. Pendaftaran dan pengiriman naskah melalui link berikut, atau dapat dikirimkan ke email komunitasjendela@gmail.com (Subject email: Lomba Berbagi Hati_Nama). Naskah dicantumkan di lampiran, tidak ditulis di badan email.
  6. Peserta lomba harus like fanpage Komunitas Jendela dan atau follow twitter @IniJendela.
  7. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
  8. Akan dipilih 3 pemenang, dan 20 karya terbaik akan dibukukan dan diterbitkan secara indie. Hak cipta buku menjadi milik Komunitas Jendela, dan hasil penjualan buku akan digunakan seluruhnya untuk dana pendirian perpustakaan atau dana pendidikan anak-anak kurang mampu.
Hadiah
  • Juara 1 : Voucher pembelian buku senilai Rp 500.000,00 + piagam penghargaan
  • Juara 2 : Voucher pembelian buku senilai Rp 300.000,00 + piagam penghargaan
  • Juara 3 : Voucher pembelian buku senilai Rp 200.000,00 + piagam penghargaan
Waktu Pelaksanaan Lomba
  • Pendaftaran dan pengiriman naskah : 20 Januari -- 20 Februari 2014.
  • Pengumuman : 12 Maret 2014 bersamaan dengan perayaan ulang tahun Komunitas Jendela yang ketiga. Pengumuman dapat dilihat di www.komunitasjendela.org atau melalui twitter @inijendela dan fanpage FB Komunitas Jendela.
Juri
Juri 1 : Farchan Noor Rachman / @efenerr (blogger di efenerr.com)
Juri 2 : Dy Lunaly / @DyLunaly (Penulis novel teenlit)

Contact Person

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini benar-benar dicomot dari web Komunitas Jendela


Empat Jenis Karakter Manusia


Ini dia ulasan ringkas tentang berbagai jenis karakter manusia. Yang manakah karaktermu?


Plegmatis.
Sifatnya selalu tenang, tertutup, dan tidak menuntut. Jika berbuat salah, orang dengan tipe plegmatis ini sangat mudah mengucap kata maaf.

Sisi positif : Ia selalu bersikap tenang dan cinta damai. Maka tak heran jika ia pandai menjadi penengah masalah. Orang plegmatis juga biasanya mudah beradaptasi dan merupakan seorang pendengar yang baik. Ia cenderung hebat di bidang administrasi dan menginginkan segala sesuatunya terencana dengan baik. 

Sisi negatif : Sifatnya yang sangat cinta damai terkadang menyebabkan tipe plegmatis ini suka menghindari konflik  dan tanggung jawab. Ia juga tipe orang yang pemalu, sulit memotivasi diri, kurang antusias, dan cepat menyerah.

Jika kamu mempunyai teman bertipe Plegmatis, jadikanlah dirinya sebagai teman curhat. Hal ini dapat membuat dirinya senang dan merasa dibutuhkan.

Sanguin
Orang dengan tipe ini sering dijuluki sebagai orang terpopuler dan banyak teman. Hal ini disebabkan sikapnya yang selalu ceria, mudah bergaul, serta banyak bicara.

Sisi positif : Ia merupakan orang yang cukup antusias, ekspresif, dan impulsif. Orang sanguin juga cekatan dalam mengambil inisiatif. Selain itu, ia merupakan orang yang tulus dan cenderung kekanakan.

Sisi negatif : Orang sanguin biasanya pelupa, susah fokus, mudah terbawa arus, suka ikut campur masalah orang lain, dan konsumtif.

Jika kamu mempunyai teman bertipe Sanguin, sering-seringlah memuji. Ia sangat senang dengan penghargaan yang tulus, meski tak seberapa besar.

Koleris
Koleris adalah motivator. Seorang pekerja keras yang ambisius, keras, dan cukup terbuka.

Sisi positif : Suka tantangan dan berani ambil resiko. Koleris adalah seorang yang visioner, mandiri, dan rasional. Ia mau menjadi pemimpin dan selalu ingin menjadi yang lebih baik.

Sisi negatif : Sikapnya yang keras menjadikan orang koleris tidak sabar dan cenderung mudah marah. Ia juga kurang bisa berempati, sulit meminta maaf, serta menyukai kontroversi.

Jika kamu mempunyai teman bertipe Koleris, hindari mengkritik dirinya. Berikan pendapatmu tanpa menjatuhkan argumentasi mereka. Posisikan diri sebagai orang yang netral.

Melankolis
Melankolis adalah orang paling berbakat! Meski ia cenderung tertutup, mudah murung, dan mudah putus asa. Tipe melankolis adalah tipe orang yang mau berkorban.

Sisi positif : Orang dengan tipe ini sangat romantis, sensitif, setia, dan perfeksionis. Ia mempunyai segudang ide dan akan banyak berfikir tentang idenya itu. Maklum saja, tipe melankolis juga merupakan seorang yang analitis dan pemikir. Ia juga sangat berhati-hati dalam memilih teman.

Sisi negatif : Seringkali, orang melankolis melihat suatu masalah dari sisi negatif saja. Seorang yang pendendam, mudah curiga, dan mudah tertekan. Ia seorang yang suka mengkritisi namun tak suka dikritisi.

Jika kamu mempunyai teman bertipe Melankolis, jadilah sahabat yang selalu ada saat mereka membutuhkan dukungan moral. Dukungan moral ini sangat diperlukan ketika ia dihadapkan pada suatu pilihan yang membutuhkan keputusan penting.


8 Desember 2013

Esok, Aku (dan Kamu) Akan Terus Berjalan


Ini bukan perjalanan pertamaku. Entah yang keberapa kalinya, yang pasti perjalanan itu masih saaangat panjang.


Suatu ketika, aku melihat jalur pertama, terlihat cantik mempesona. Tak perlu kau tengok lebih dalam, jalanan itu sangat meyakinkan yang melihatnya: bahwa kita akan dibawa dalam perjalanan indah penuh rasa. Bebukitan dan hamparan hijau alam permai mungkin akan menjadi pemandangan duniawi yang sempurna. Jadi, aku memilih ini tanpa perlu banyak pertimbangan.

... Namun sebentar, aku melihat jalur lain yang sepertinya juga menyenangkan.

Kunamakan ini sebagai jalur kedua. Tak lebih cantik dari jalur sebelumnya. Llihatlah, berbagai jenis tumbuhan ada di sana. Ketika kau dilanda lapar suatu waktu, akan dengan sangat mudahnya kau memilih satu di antara tumbuhan itu untuk kau makan. Danau membentang di pinggiran jalan itu sepertinya juga sangat ampuh untuk melawan haus. Aku berfikir ulang, bagaimana akan kuatasi rasa lapar dan dahaga jika aku memilih jalur pertama? Maka aku memilih jalur kedua.

Tak lama aku melangkah, tiba-tiba aku dikagetkan oleh permadani hijau kekuning-kuningan. Terdapat pula di tengahnya sebuah jalur panjang. Saaaaangat panjang, sepertinya. Namun, terlihat pula di dalamnya ada beribu permata. Cantik, menyala-nyala. Tak ada kecantikan yang melebihi kilau permata itu. Aku termangu, menatap paparan cahaya yang terpancar. Jika dijual, satu butir saja mungkin akan cukup untuk membeli rumah. Bayangkan, jika aku dapat membawa pulang 10 butir saja, akan berapa banyak rumah yang kupunya? Lalu, kusebut ini sebagai jalur ketiga.

Perjalananku akan berlanjut terjadi tiga hari kemudian dan aku harus memilih salah satu diantara tiga jalur itu. Entah dugaan-dugaan yang kusampaikan itu benar atau tidak. Aku hanya meraba, mempertimbangkan apa-apa yang ada di sepanjang jalur itu melalui penglihatan pertama. Bukankah sebuah jalur itu memiliki kelokan? Dan aku tak akan pernah bisa melihatnya, kecuali aku telah melewatinya.

Jika kau adalah aku, jalan mana yang akan kau pilih? Mungkin aku perlu mempertimbangkan beberapa alasan terbaikmu. Kemudian, mari kita berjalan bersama. Semoga jalan yang kita pilih ini, BENAR.

:')

19 November 2013

Tuhan (Masih Berada) di Antara Kita

"Dan tak akan pernah kuceritakan rasa ini pada siapapun, selain Sang Maha Penyimpan Rahasia. Hanya aku dan Sang Maha Pemberi Rasa yang tahu dan paham perasaan ini sekarang. Mungkin bertahan dan mungkin pula akan musnah. Bahkan aku pun tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Tuhanku yang lebih tau tentang ini.
Yang aku rasa saat ini, aku menyukaimu. Lebih dari rasa yang pernah aku puja. Tanpa ragu, tanpa pertimbangan. Keyakinanku pada cinta ini mengantarkanku pada langkah hidup. Sebuah usaha penyetaraan antara aku dan kamu. Berbeda dari segala prasangka hati yang pernah terjadi, aku hanya yakin itu kamu. Meski penuh jeda, kembali aku menyentuh tuts-tuts namamu. Menyebutmu penuh harap agar Tuhan mengantarkanmu pada ayah-ibuku untuk, meminangku. Nanti.
Segala bayang masa depanku ada di kamu. Panah itu kembali ke arahmu. Aku tak meminta, hanya rasa ini yang mengarahkan. Kemudian aku tenang, yakin ada engkau di jalan jauh sana. Sungguh aku tak memalak Tuhan untuk memberikanmu padaku. Harapanku sama semu dengan takdirku, yang tak bisa sekalipun aku meramalnya. Ini urusan Tuhan. Sekali lagi, sungguh aku berpasrah kepada-Nya.
Kau tau apa yang terjadi ketika orang-orang menyebut namamu? Hanya "oh..", tanpa getar tanpa nanar. Rasa ini seakan sudah aus. Bukan lenyap, ini tentang kekebalan rasa. Jiwaku sudah tangguh mendengar namamu. Hanya satu yang membuatku cemas: orang lain tahu tentang perasaan ini. Plis, hanya aku dan Engkau yang tahu, Gusti. Kuatkan aku untuk bersabar tak menebar benih-benih rasa.

upload

 [Semacam EPILOG]--
Ketika sudah saatnya dan jika memang kamu yang diinginkan-Nya untukku, Tuhan pasti punya cara lebih indah dari yang kita kira. Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana Ia akan mempertemukanku dan kamu, lagi. Pasti istimewa, lebih istimewa dari praduga kita. Maka aku lebih memilih menunggu. Menanti waktu hingga Tuhan memilihkanmu untukku. Lalu kau akan tahu bahwa aku mencintaimu, jauh sebelum kau mencintaiku.
Atau,

Ketika sudah saatnya dan jika memang bukan kamu yang diinginkan-Nya untukku, Tuhan pasti punya rahasia lebih indah dari yang kita kira. Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana Ia akan mempertemukanku dan dia. Pasti istimewa, lebih istimewa dari praduga kita. Maka aku lebih memilih menunggu. Menanti waktu hingga Tuhan memilihkannya untukku. Lalu aku akan tahu bahwa dia mencintaiku, jauh sebelum aku mencintainya. Kemudian kau dan dia tak akan pernah tahu bahwa aku pernah mencintaimu.
Atau,

Ketika sudah saatnya dan jika memang bukan kamu yang diinginkan-Nya untukku, Tuhan pasti punya rahasia lebih indah dari yang kita kira. Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana Ia akan mempertemukanku dan dia. Pasti istimewa, lebih istimewa dari praduga kita. Maka aku lebih memilih menunggu. Menanti waktu hingga Tuhan memilihkannya untukku. Lalu aku akan tahu bahwa aku dan dia mulai saling mencintai pada detik yang sama. Kemudian kau dan dia tak akan pernah tahu bahwa aku pernah mencintaimu."


Tuhan tak akan pernah kehabisan cara istimewa untuk mempertemukan sepasang manusia, yang kemudian saling jatuh cinta.

8 November 2013

[Project] Tentang #TulisSurat


Mengapa #TulisSurat?
#TulisSurat, seperti kita ketahui bersama, terdiri atas dua kata; tulis dan surat. Berawal dari keinginan berkirim surat kepada seseorang, terciptalah project #TulisSurat ini. Hanya saja, sampai sekarang belum terkonsep dengan baik.

Memang, bagaimana konsep awal #TulisSurat?
Sederhana. Hanya menulis, lalu kirimkan surat kepada seseorang melalui pos. Boleh bertanya kabar, sebagai pengantar di dalam kado, atau lainnya. Bisa diketik ataupun tulis tangan.

Sejak kapan project #TulisSurat ini muncul?
Hmm, kalau tidak salah ingat, akhir Oktober 2013. Hingga 08 November 2013 ini, sudah dua surat yang saya kirim. Surat pertama dirahasiakan dan surat kedua bisa dibaca di sini.

Apa harapan yang ditanamkan dalam project ini?
Meski awalnya 'main-main', saya ingin project ini berkembang meluas. Ini project sederhana, tapi saya yakin impact-nya luar biasa. Apalagi kita kirimkan surat-surat ini kepada sahabat-sahabat jauh yang tidak lagi bisa dijangkau dengan sinyal. Kita juga bisa mengirimkan kepada orang-orang yang tidak kita kenal, untuk menjalin pertemanan baik dengan mereka. Dengan #TulisSurat ini, tak hanya orang pinggiran yang bisa kita jangkau. Para pembesar di depan sana juga bisa kita rangkul. Semoga.

Lalu, apa langkah selanjutnya untuk project #TulisSurat?
Saya tak bisa bekerja sendiri. Oleh karenanya, saya butuh orang-orang yang mau turut serta menyukseskan project ini. Bisa menyebarluaskan via online atau bahkan ikut menulis dengan mencantumkan tagar #TulisSurat di setiap suratnya.

Bagaimana untuk menjadi bagian dari project #TulisSurat?
#TulisSurat untuk saya. Mari kita menjalin pertemanan. Untuk mendapatkan alamat pos saya, sila kirim pesan ke 087-838-208-166.

Salam Surat! :)

Gambar diambil dari sini

6 November 2013

(Masih) Mencintai dengan Sederhana

YEYEYELALALA~

Tambah tua, umurku tambah tua. Dua puluh dua, oh dua puluh dua. Tapi tetap, aku dan mereka mencintai (-ku) dengan sederhana. #apasih :D

Tak perlu bermuluk-muluk mencintai seseorang. Ungkapan cinta tak selalu tentang materi 'kan? Ini buktinya. I was very happy when she posting on her blog. Thank you~ :*


Just it.
Apa yang membuatmu senang, coba berikan kepada orang lain. Sederhana, bukan?

Tidak. Aku tidak sedang berharap pemberian orang lain. Tapi, inilah yang sedang aku usahakan. Mencintai orang lain dengan sederhana. Cukup memberi apa yang kita sukai, bukan memberi apa yang tidak kita butuhkan. Semoga kita diberikan rasa ikhlas untuk menjalaninya :)

*terima kasihku untukmu (sekalian), yang mencintaiku dengan sederhana.

4 November 2013

Untuk Ken

Bulan purnama. Bayangan Ken semakin sulit kulihat. Hanya kecantikan cahaya yang menerangi bumi. Tanpa Ken. Tanpa kamu, Ken.

Suara merdu tapak kakimu juga semakin sulit kudengar. Meski tanpa kebisingan. Ah, benar. Malam purnama ini mengheningkan ragaku. Kau pulang tanpa kata sayang!

-Jedi.

1 November 2013

[Project] #TulisSurat Kedua

Tentang project #TulisSurat, bisa dibaca di sini. Ini merupakan surat kedua dari project tersebut. Surat pertama, dirahasiakan. Hehe.

--Surat ini saya tujukan kepada sahabat (kecil) saya di Pekalongan. Lahir pada tanggal 5 November 1991, tepat satu hari sebelum saya.
____________________________________________________________________________

#TulisSurat Kedua: Jogja, 1 November 2013.

Kata pertama yang ingin aku ucapkan sebelum semuanya: memanggil namamu!
BAAHRAAAAAAAAAAAAAAAIIIIIIIIIIIIIIIINN
*HOSH, HOSH, HOSH* Bismillahirrohmaaanirrohiim.
Assalamu’alaikuuuum...
Haloooo. Appaaa kabbaaarr teman (masa) kecilkuuuuu? :”
Kabarku, alhamdulillah masih diberi beban dalam mengerjakan skripsi. Itu artinya, aku masih punya rasa tanggung jawab untuk meluluskan diriku sendiri. Haha, coba kalau tidak? Mungkin aku akan memutuskan untuk menjadi mahasiswa abadi (Na’udzubillaaaaaah >,<)
Sebelum aku menerocos banyak hal, aku ingin menegaskan bahwa ini adalah surat. Bukan sekedar kartu ucapan atau sejenisnya yang didesain dengan sedikit tulisan. Sekali lagi, ini surat yang mengandung kalimat lebih banyak dari kartu ucapan lainnya.
Sedikit bercerita, aku sesungguhnya rindu menulis surat. Untuk siapapun, dalam hal apapun. Proyek ini aku namakan #TulisSurat. Makanya, jangan heran kalau di kertas ini, di kanan atas, ada tulisan tersebut. Karena ini adalah tulisan dalam bentuk surat-ku yang kedua; surat sebelumnya sudah aku kirim dan diterima oleh ‘yang berhak’. Haha. Oleh karenanya, setelah tanda proyek #TulisSurat di atas itu, aku beri kata kedua J Itu artinya, kamu orang kedua yang aku kirimi surat, Reeeen. Selamat yaaaaa. Hahahahaha, emang bahagia? :p
Btw, sebenernya sampai sekarang aku masih bingung bagaimana aku harus memanggilmu: Rain, Ren, atau justru Yen? Kau lebih suka yang mana? Jujur! :D
Hh, tak terasa lebih dari 10 tahun kita berteman ya? Dari mulai nyepeda bareng, jajan bareng, dolan bareng, bandel bareng, daaaaaan berbagai hal lain yang bareng-bareng. Oya, curhat bareng! Haha. Piye kamu? Sekarang sama siapa? Jadi rindu bergosip ria sama kamu :* Pokoknya besok kalau aku pulang ke Pekalongan, kita kudu jalan-jalan! Sebelum masing-masing dari kita menikah, kudu menggila sek. Hahahahaha. Trus kamu juga harus cerita tentang pasanganmu itu, lengkap tanpa jeda. Oke mbak Bro? Sip.
Aku gak tahu surat ini bakal sampai di tanganmu tanggal berapa. Yang pasti sebenarnya aku pengen banget kalau surat ini kamu buka di tanggal bahagiamu. Satu hari sebelum tanggal bahagiaku. Nah, ini yang paling aku inget sampai sekarang ketika tanggal bahagiaku tiba. Kamu juga sedang berbahagia di tempatmu sana –satu hari sebelumnya. Lucu rasanya, jika kita bisa merayakannya bersama-sama. Aku – kamu. Ulang tahun bareng, berpesta bareng. Yok, kapan-kapan. Semoga tahun depan kita masih dipersilakan melakukan yang sedemikian itu, ya. Amin.
Hah, akhirnya. Sampai juga di kertas berikutnya. Nyerocosku sudah banyak banget. Kalau kamu mau, boleh lho, bales surat ini. Pakai tagar #TulisSurat seperti di atas itu. Itung-itung bernostalgia dengan kata dan kertas, bukan lagi surat digital semacam e-mail, sms, atau bahkan bbm-whatsapp. Ini gak wajib, gak sunnah, gak makruh, juga gak haram. Hehe.
Sebelum kuakhiri surat ini, aku pengen ngucapin:

Selamat Ulang Tahuuuun,
Bahrain Dwi Masitoh, S.Pd.

Eh, bener kan tulisannya begitu? Haha, kalau salah, benerin sendiri ya :P
Pokoknya selamat atas pencapaian hidupmu saat ini. Selamaaaat, selamat, selamaaat! *jabat-tangan*
Semoga barokah, manfaat dunia-akhirat. Semoga diberi kemudahan untuk urusan hidupmu kelak. Semoga didekatkan jodohnya, yang baik bagi dirimu dan orang-orang di sekitarmu. Semoga semakin solihah! Aaamiiiiiiin :*
Oya, doakan juga semoga aku bisa mengikuti jejakmu secepatnya. Maaf juga kalau banyak salah kata maupun laku, di manapun dan kapanpun. Semoga untaian doa darimu dan keikhlasanmu memaafkanku akan memudahkan jalan hidup kita berdua. Semoga. J
Akhir kata, alhamdulillahi robbil ‘alamin.
Wassalamu’alakum warahmatullahi wa barokaatuh.

Salam Rindu,
Ihya J