Ombak tak pernah menyadari kemana ia melangkah. Debu tak pernah tau kemana ia akan menghinggap. Begitu pula hati, yang tak pernah tau kemana ia akan tertambat.
Ya, aku tak punya kuasa atas rasa cintaku padamu :")
Ombak tak pernah menyadari kemana ia melangkah. Debu tak pernah tau kemana ia akan menghinggap. Begitu pula hati, yang tak pernah tau kemana ia akan tertambat.
Ya, aku tak punya kuasa atas rasa cintaku padamu :")
Menjadi perempuan yang sempurna, tidak hanya mampu memberikan putra/i yang baik lagi sholih/ah. Sepatutnya ia pantas untuk dicintai, pantas untuk diberi penghargaan tinggi, diharap-harap oleh banyak orang, mampu menjelma menjadi bidadari maupun pangeran dalam satu waktu. Dan seluruh wanita ingin dirinya seperti itu.
Dimana posisi lelaki?
Mereka adalah penguat dan penyeimbang sang istri. Siapa yang mencintai perempuan pertama kali, jika bukan sang suami? Kepantasan yang melekat pada perempuan itu, adalah berkat lelaki. Maka keduanya amat bijaksana jika mampu berjalan beriringan, untuk 'menciptakan' putra/i yang baik lagi sholih/ah.
Menapaki kehidupan untuk mencapai visi bersama. Menjalani rintangan untuk kebahagiaan semesta. Mengharap ridho-Nya untuk keabadian hati. Semoga kita dihadapkan pada jalan terbaik-Mu, Rabbi.
Sudahi, sudahi!
Tetiba aku ingin sendiri, sehingga menutup seluruh akses menuju ruanganku. Aku enggan direcoki. Aku malas berbasa-basi. Bahkan untuk menjawab tawamu saja aku nyaris tak sudi.
Sudahi!
Abaikan basa-basimu. Katakan seperlunya. Mari kita manfaatkan kemampuan kita dalam menggunakan maksim kuantitas. Sampaikan seperlunya, lantas kujawab sesukaku.
Kita hidup di jaman orang-sokpeduli-dengan-orang-lain. Menganggap segala yang tak kita setujui adalah aib. Sopan santun yang katanya dijunjung tinggi, malah menjadi bumerang bagi diri sendiri. Kemudian, digunakan untuk menjatuhkan orang lain.
Katanya sih, liberal. Tapi segala laku orang lain, dikomentari. Diperkatakan ketidaksetujuannya. Lantas, bagian mana yang liberal? Meski diembel-embeli dengan kalimat, "saya sih tak masalah", yang justru menjadi tanda oposisi.
Aku ragu dengan aroma hidup ini. Wangi, tapi busuk. Bau, tapi merekah. Anjing, tapi kupu-kupu. Gagak, tapi kura-kura. Semua serba tipu-tipu. Dan hari ini, aku hanya sedang butuh waktu untuk memoles ke-muak-an ku.
Ijinkan aku muntah batu.