20 Maret 2015

Allah yang Menuntaskan Janjimu, melalui Mimpi (1)

Malam tadi aku bermimpi tentang seseorang yang pernah aku kagumi. Bukan karena ia bijaksana atau hal lain yang juga membuatku kagum dengan orang lain selain dia, tetapi sebab ia adalah barisan pertama yang memberiku harapan. Barisan pertama teman-temanku yang memberiku perhatian. Sebab ia lelaki, maka aku tak patut pula memberi perhatian amat lebih kecuali benar-benar aku menginginkan hidupnya ada padaku. Ini komitmenku, tak perlu disanggah siapapun.

Kemudian saat aku terbangun, aku sadar bahwa mungkin ini adalah barisan hayalanku yang belum terwujud. Maka aku tersenyum, Tuhan mengabulkannya melalui mimpi. Ia bukan muhrimku, maka aku tak boleh berjalan hanya berdua bersamanya. Kecuali dalam mimpi, bukan? :D

Kalau kata orang mimpi adalah alam bawah sadar, maka entah mimpi ini apa artinya. Aku memang baru saja bertemu dengannya secara nyata, dan ia kembali berhasil membuatku melongo atas sikapnya. Suatu kali waktu itu, ia berkata akan menemuiku; mengajakku berjalan-jalan untuk sekedar melepas penat pembelenggu hidup.

Dan (kalau boleh dikatakan sebagai) janji-nya itu, terlaksana malam tadi

lewat mimpi.

Maka, aku akan menganggap janjinya telah lunas sehingga aku tak perlu merengek untuk hal tak penting itu. Allah yang telah menuntaskan janji. Sebab akan ada sederet rasa bersalah jika memang pada akhirnya aku harus pergi berdua bersamanya...

19 Maret 2015

Menggali Cinta

"Menempa untuk terus menempa, kembali menempa untuk mampu menempa. Hingga jiwa tak mampu lagi hidup untuk menempa."

Bismillah, klub belajar Linguistik sudah satu langkah. Masih perlu jutaan langkah untuk ribuan tempaan ilmu. Memperdalam keilmuan, memperluas pengetahuan, sembari menebar kebaikan.

Sementara itu, aku masih rindu buku, anak-anak, dan calon imamku.

18 Maret 2015

Aku yang Lain

Ketika semua terasa redup, aku ingin menjadi diriku yang terang.
Meski kadang saat semua terang, aku memilih untuk meredup.
Tak ada yang perlu disalahkan.
Sebab terkadang kita hanya butuh sesuatu-yang-lain.
Menjadi yang-lain.
Untuk dianggap seperti yang-lain.
Bisa jadi sebagai ungkapan benci terhadap konsistensi, mungkin juga begah terhadap carut marut hidup yang kita buat sendiri.
Maka biarkan aku menjadi yang-lain.
Mencampakkan yang lain untuk kemudian menjadi yang-lain.

Surakarta, 18 Maret 2015.

11 Oktober 2014

OLX dan passion (?)

Meski mengalami kegagalan berulang dalam berjualan di OLX, nyatanya aku tetap bahagia; aku tetap berusaha. Ada suatu kenikmatan tersendiri; kepuasan yang didapat saat berhasil memunculkan sebuah iklan di sana dan menerima beberapa pesan respon atas iklan tersebut. Inikah yang disebut sebagai passion? Dalam batasan apa hal demikian bisa disebut sebagai passion?

Yoris dan beberapa penganut passionisme, menyatakan bahwa sesuatu yang dilakukan dengan senang, tanpa paksaan, meski melalui berbagai rintangan itulah yang disebut sebagai passion. Semenyakitkan apapun hasilnya, sesakit apapun halangannya, tak membuatmu menjadi rapuh. Justru itulah yang akan meningkatkan kreativitasmu untuk kembali mencoba dan terus mencoba.

Lalu, pada saat tepat manakah yang mempertemukan aku dengan passion-ku?

Aku tak bisa membayangkan kebahagiaan macam apa yang akan aku terima saat menyadari bahwa aku memiliki passion atas sesuatu…


I just wannna be free.

3 Oktober 2014

Curcol sambil lalu~

Hai, aku sedang mendekam di Perpustakaan Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta!
-berencana mengerjakan tugas yang bejibun.

Ternyata, menjadi mahasiswa pascasarjana memang tak mudah. Hari aktif kuliah sih tiga hari. Tapi kalau tugas seabrek gini tetap saja wajib 'berkunjung' ke kampus setiap hari. Meski gak sepenuhnya mengerjakan tugas xD

Kan bersilaturahim itu amat penting to? Ketika bertemu kawan di kampus, masak iya mau menghindari obrolan menarik dengan mereka? Haha, ngeles sih kalau ini.

Tak ada yang ingin aku sampaikan di postingan kali ini. Hanya mengeja kata untuk memacu ide saja. Tak perlu dibaca serius juga, ya.

and the last, see ya! :)

2 Oktober 2014

Tak Meredupkan Gemerlap Tuhan

Sembari menjalani waktu, aku berusaha merangkak, meraih gemerlap bintang yang semakin tinggi. Tak ada yang bisa kusesali dengan hidup di rumah mungil ini. Bukankah aku yang meminta pada Tuhan untuk selalu hidup sederhana?

Aku menyesal tanpa peluh. Bahkan hatiku tak juga memerah. Kata seorang teman, aku memucat. Kurang darah, tebaknya. Kalau kalian mengajakku untuk mengganas, aku anggap bahwa itu pun tak perlu. Hidupku sudah cukup indah untuk selalu menemui kebermaknaan. Tuhan yang menjalankan aku.

Sampai bintang itu berlari menjauh, aku masih saja di sini. Meratap tanpa pernah mengerjap. Tuhan selalu membiarkanku begitu. Meski semakin redup gemerlapnya, aku masih saja memercayai bahwa Tuhan mencintaiku dengan cara-Nya. Semoga.

Aku berkehendak kembali ke 'rumah'!

Halo, apa kabar 'rumah' kesekian-ku?
Bahkan aku lama tak menyentuh tuts keyboard dengan penuh rasa.
Sedemikianlah aku merindu; mencoba merangkai kata tanpa peduli asa.
Mungkin sepersekian detik kemudian kau akan melihat mataku berpeluh air mata~
Sungguh aku merindu!

Apa yang perlu aku lakukan saat kembali ke 'rumah'?

Haruskah aku berlari, memeluk, hingga bersimpuh di hadapannya;
menjelaskan segunung perjalanan kehidupan selama 'merantau';
menceritakan kepuasan-kepuasan nikmat Tuhan;
atau hanya bersedih menunduk sembari menepuk 'pundak'nya?
-yang barangkali 'rumah' itu juga merindukanku?

Sejatinya aku benar-benar memberimu pertanyaan,
maka sampaikanlah jawabanmu.

Saat ini aku sudah di:
Surakarta, 2 Oktober 2014.

7 Januari 2014

Lomba Menulis Kisah Inspiratif 'Berbagi Hati'


Dalam rangka menyambut ulang tahun Komunitas Jendela yang ketiga pada tanggal 12 Maret 2014 nanti, kami mengadakan lomba menulis kisah inspiratif dengan tema 'Berbagi'. Dua puluh kisah inspiratif terbaik akan diterbitkan dalam sebuah buku antologi berjudul "Berbagi Hati". Hasil penjualan buku ini seluruhnya akan digunakan untuk dana pendirian perpustakaan atau dana pendidikan anak-anak kurang mampu oleh Komunitas Jendela.

Syarat dan Ketentuan Lomba
  1. Peserta lomba umum dan tidak dibatasi umur.
  2. Tulisan berupa kisah inspiratif dengan tema 'Berbagi'. Diutamakan cerita yang ditulis berdasarkan kisah nyata, baik dialami sendiri oleh penulis maupun orang lain.
  3. Naskah asli, bukan jiplakan atau saduran dan belum pernah dipublikasikan di media cetak ataupun online. Semua tulisan akan dicek dengan copyscape. Jika terbukti bukan naskah/tulisan asli dan pernah dipublikasikan, kepesertaan akan dianggap gugur.
  4. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia. Panjang tulisan 7--10 halaman kwarto, font Times New Roman 12, spasi 1,5. Cantumkan biodata singkat di halaman terakhir naskah.
  5. Pendaftaran dan pengiriman naskah melalui link berikut, atau dapat dikirimkan ke email komunitasjendela@gmail.com (Subject email: Lomba Berbagi Hati_Nama). Naskah dicantumkan di lampiran, tidak ditulis di badan email.
  6. Peserta lomba harus like fanpage Komunitas Jendela dan atau follow twitter @IniJendela.
  7. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
  8. Akan dipilih 3 pemenang, dan 20 karya terbaik akan dibukukan dan diterbitkan secara indie. Hak cipta buku menjadi milik Komunitas Jendela, dan hasil penjualan buku akan digunakan seluruhnya untuk dana pendirian perpustakaan atau dana pendidikan anak-anak kurang mampu.
Hadiah
  • Juara 1 : Voucher pembelian buku senilai Rp 500.000,00 + piagam penghargaan
  • Juara 2 : Voucher pembelian buku senilai Rp 300.000,00 + piagam penghargaan
  • Juara 3 : Voucher pembelian buku senilai Rp 200.000,00 + piagam penghargaan
Waktu Pelaksanaan Lomba
  • Pendaftaran dan pengiriman naskah : 20 Januari -- 20 Februari 2014.
  • Pengumuman : 12 Maret 2014 bersamaan dengan perayaan ulang tahun Komunitas Jendela yang ketiga. Pengumuman dapat dilihat di www.komunitasjendela.org atau melalui twitter @inijendela dan fanpage FB Komunitas Jendela.
Juri
Juri 1 : Farchan Noor Rachman / @efenerr (blogger di efenerr.com)
Juri 2 : Dy Lunaly / @DyLunaly (Penulis novel teenlit)

Contact Person

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini benar-benar dicomot dari web Komunitas Jendela


Empat Jenis Karakter Manusia


Ini dia ulasan ringkas tentang berbagai jenis karakter manusia. Yang manakah karaktermu?


Plegmatis.
Sifatnya selalu tenang, tertutup, dan tidak menuntut. Jika berbuat salah, orang dengan tipe plegmatis ini sangat mudah mengucap kata maaf.

Sisi positif : Ia selalu bersikap tenang dan cinta damai. Maka tak heran jika ia pandai menjadi penengah masalah. Orang plegmatis juga biasanya mudah beradaptasi dan merupakan seorang pendengar yang baik. Ia cenderung hebat di bidang administrasi dan menginginkan segala sesuatunya terencana dengan baik. 

Sisi negatif : Sifatnya yang sangat cinta damai terkadang menyebabkan tipe plegmatis ini suka menghindari konflik  dan tanggung jawab. Ia juga tipe orang yang pemalu, sulit memotivasi diri, kurang antusias, dan cepat menyerah.

Jika kamu mempunyai teman bertipe Plegmatis, jadikanlah dirinya sebagai teman curhat. Hal ini dapat membuat dirinya senang dan merasa dibutuhkan.

Sanguin
Orang dengan tipe ini sering dijuluki sebagai orang terpopuler dan banyak teman. Hal ini disebabkan sikapnya yang selalu ceria, mudah bergaul, serta banyak bicara.

Sisi positif : Ia merupakan orang yang cukup antusias, ekspresif, dan impulsif. Orang sanguin juga cekatan dalam mengambil inisiatif. Selain itu, ia merupakan orang yang tulus dan cenderung kekanakan.

Sisi negatif : Orang sanguin biasanya pelupa, susah fokus, mudah terbawa arus, suka ikut campur masalah orang lain, dan konsumtif.

Jika kamu mempunyai teman bertipe Sanguin, sering-seringlah memuji. Ia sangat senang dengan penghargaan yang tulus, meski tak seberapa besar.

Koleris
Koleris adalah motivator. Seorang pekerja keras yang ambisius, keras, dan cukup terbuka.

Sisi positif : Suka tantangan dan berani ambil resiko. Koleris adalah seorang yang visioner, mandiri, dan rasional. Ia mau menjadi pemimpin dan selalu ingin menjadi yang lebih baik.

Sisi negatif : Sikapnya yang keras menjadikan orang koleris tidak sabar dan cenderung mudah marah. Ia juga kurang bisa berempati, sulit meminta maaf, serta menyukai kontroversi.

Jika kamu mempunyai teman bertipe Koleris, hindari mengkritik dirinya. Berikan pendapatmu tanpa menjatuhkan argumentasi mereka. Posisikan diri sebagai orang yang netral.

Melankolis
Melankolis adalah orang paling berbakat! Meski ia cenderung tertutup, mudah murung, dan mudah putus asa. Tipe melankolis adalah tipe orang yang mau berkorban.

Sisi positif : Orang dengan tipe ini sangat romantis, sensitif, setia, dan perfeksionis. Ia mempunyai segudang ide dan akan banyak berfikir tentang idenya itu. Maklum saja, tipe melankolis juga merupakan seorang yang analitis dan pemikir. Ia juga sangat berhati-hati dalam memilih teman.

Sisi negatif : Seringkali, orang melankolis melihat suatu masalah dari sisi negatif saja. Seorang yang pendendam, mudah curiga, dan mudah tertekan. Ia seorang yang suka mengkritisi namun tak suka dikritisi.

Jika kamu mempunyai teman bertipe Melankolis, jadilah sahabat yang selalu ada saat mereka membutuhkan dukungan moral. Dukungan moral ini sangat diperlukan ketika ia dihadapkan pada suatu pilihan yang membutuhkan keputusan penting.


8 Desember 2013

Esok, Aku (dan Kamu) Akan Terus Berjalan


Ini bukan perjalanan pertamaku. Entah yang keberapa kalinya, yang pasti perjalanan itu masih saaangat panjang.


Suatu ketika, aku melihat jalur pertama, terlihat cantik mempesona. Tak perlu kau tengok lebih dalam, jalanan itu sangat meyakinkan yang melihatnya: bahwa kita akan dibawa dalam perjalanan indah penuh rasa. Bebukitan dan hamparan hijau alam permai mungkin akan menjadi pemandangan duniawi yang sempurna. Jadi, aku memilih ini tanpa perlu banyak pertimbangan.

... Namun sebentar, aku melihat jalur lain yang sepertinya juga menyenangkan.

Kunamakan ini sebagai jalur kedua. Tak lebih cantik dari jalur sebelumnya. Llihatlah, berbagai jenis tumbuhan ada di sana. Ketika kau dilanda lapar suatu waktu, akan dengan sangat mudahnya kau memilih satu di antara tumbuhan itu untuk kau makan. Danau membentang di pinggiran jalan itu sepertinya juga sangat ampuh untuk melawan haus. Aku berfikir ulang, bagaimana akan kuatasi rasa lapar dan dahaga jika aku memilih jalur pertama? Maka aku memilih jalur kedua.

Tak lama aku melangkah, tiba-tiba aku dikagetkan oleh permadani hijau kekuning-kuningan. Terdapat pula di tengahnya sebuah jalur panjang. Saaaaangat panjang, sepertinya. Namun, terlihat pula di dalamnya ada beribu permata. Cantik, menyala-nyala. Tak ada kecantikan yang melebihi kilau permata itu. Aku termangu, menatap paparan cahaya yang terpancar. Jika dijual, satu butir saja mungkin akan cukup untuk membeli rumah. Bayangkan, jika aku dapat membawa pulang 10 butir saja, akan berapa banyak rumah yang kupunya? Lalu, kusebut ini sebagai jalur ketiga.

Perjalananku akan berlanjut terjadi tiga hari kemudian dan aku harus memilih salah satu diantara tiga jalur itu. Entah dugaan-dugaan yang kusampaikan itu benar atau tidak. Aku hanya meraba, mempertimbangkan apa-apa yang ada di sepanjang jalur itu melalui penglihatan pertama. Bukankah sebuah jalur itu memiliki kelokan? Dan aku tak akan pernah bisa melihatnya, kecuali aku telah melewatinya.

Jika kau adalah aku, jalan mana yang akan kau pilih? Mungkin aku perlu mempertimbangkan beberapa alasan terbaikmu. Kemudian, mari kita berjalan bersama. Semoga jalan yang kita pilih ini, BENAR.

:')

19 November 2013

Tuhan (Masih Berada) di Antara Kita

"Dan tak akan pernah kuceritakan rasa ini pada siapapun, selain Sang Maha Penyimpan Rahasia. Hanya aku dan Sang Maha Pemberi Rasa yang tahu dan paham perasaan ini sekarang. Mungkin bertahan dan mungkin pula akan musnah. Bahkan aku pun tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Tuhanku yang lebih tau tentang ini.
Yang aku rasa saat ini, aku menyukaimu. Lebih dari rasa yang pernah aku puja. Tanpa ragu, tanpa pertimbangan. Keyakinanku pada cinta ini mengantarkanku pada langkah hidup. Sebuah usaha penyetaraan antara aku dan kamu. Berbeda dari segala prasangka hati yang pernah terjadi, aku hanya yakin itu kamu. Meski penuh jeda, kembali aku menyentuh tuts-tuts namamu. Menyebutmu penuh harap agar Tuhan mengantarkanmu pada ayah-ibuku untuk, meminangku. Nanti.
Segala bayang masa depanku ada di kamu. Panah itu kembali ke arahmu. Aku tak meminta, hanya rasa ini yang mengarahkan. Kemudian aku tenang, yakin ada engkau di jalan jauh sana. Sungguh aku tak memalak Tuhan untuk memberikanmu padaku. Harapanku sama semu dengan takdirku, yang tak bisa sekalipun aku meramalnya. Ini urusan Tuhan. Sekali lagi, sungguh aku berpasrah kepada-Nya.
Kau tau apa yang terjadi ketika orang-orang menyebut namamu? Hanya "oh..", tanpa getar tanpa nanar. Rasa ini seakan sudah aus. Bukan lenyap, ini tentang kekebalan rasa. Jiwaku sudah tangguh mendengar namamu. Hanya satu yang membuatku cemas: orang lain tahu tentang perasaan ini. Plis, hanya aku dan Engkau yang tahu, Gusti. Kuatkan aku untuk bersabar tak menebar benih-benih rasa.

upload

 [Semacam EPILOG]--
Ketika sudah saatnya dan jika memang kamu yang diinginkan-Nya untukku, Tuhan pasti punya cara lebih indah dari yang kita kira. Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana Ia akan mempertemukanku dan kamu, lagi. Pasti istimewa, lebih istimewa dari praduga kita. Maka aku lebih memilih menunggu. Menanti waktu hingga Tuhan memilihkanmu untukku. Lalu kau akan tahu bahwa aku mencintaimu, jauh sebelum kau mencintaiku.
Atau,

Ketika sudah saatnya dan jika memang bukan kamu yang diinginkan-Nya untukku, Tuhan pasti punya rahasia lebih indah dari yang kita kira. Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana Ia akan mempertemukanku dan dia. Pasti istimewa, lebih istimewa dari praduga kita. Maka aku lebih memilih menunggu. Menanti waktu hingga Tuhan memilihkannya untukku. Lalu aku akan tahu bahwa dia mencintaiku, jauh sebelum aku mencintainya. Kemudian kau dan dia tak akan pernah tahu bahwa aku pernah mencintaimu.
Atau,

Ketika sudah saatnya dan jika memang bukan kamu yang diinginkan-Nya untukku, Tuhan pasti punya rahasia lebih indah dari yang kita kira. Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana Ia akan mempertemukanku dan dia. Pasti istimewa, lebih istimewa dari praduga kita. Maka aku lebih memilih menunggu. Menanti waktu hingga Tuhan memilihkannya untukku. Lalu aku akan tahu bahwa aku dan dia mulai saling mencintai pada detik yang sama. Kemudian kau dan dia tak akan pernah tahu bahwa aku pernah mencintaimu."


Tuhan tak akan pernah kehabisan cara istimewa untuk mempertemukan sepasang manusia, yang kemudian saling jatuh cinta.

8 November 2013

[Project] Tentang #TulisSurat


Mengapa #TulisSurat?
#TulisSurat, seperti kita ketahui bersama, terdiri atas dua kata; tulis dan surat. Berawal dari keinginan berkirim surat kepada seseorang, terciptalah project #TulisSurat ini. Hanya saja, sampai sekarang belum terkonsep dengan baik.

Memang, bagaimana konsep awal #TulisSurat?
Sederhana. Hanya menulis, lalu kirimkan surat kepada seseorang melalui pos. Boleh bertanya kabar, sebagai pengantar di dalam kado, atau lainnya. Bisa diketik ataupun tulis tangan.

Sejak kapan project #TulisSurat ini muncul?
Hmm, kalau tidak salah ingat, akhir Oktober 2013. Hingga 08 November 2013 ini, sudah dua surat yang saya kirim. Surat pertama dirahasiakan dan surat kedua bisa dibaca di sini.

Apa harapan yang ditanamkan dalam project ini?
Meski awalnya 'main-main', saya ingin project ini berkembang meluas. Ini project sederhana, tapi saya yakin impact-nya luar biasa. Apalagi kita kirimkan surat-surat ini kepada sahabat-sahabat jauh yang tidak lagi bisa dijangkau dengan sinyal. Kita juga bisa mengirimkan kepada orang-orang yang tidak kita kenal, untuk menjalin pertemanan baik dengan mereka. Dengan #TulisSurat ini, tak hanya orang pinggiran yang bisa kita jangkau. Para pembesar di depan sana juga bisa kita rangkul. Semoga.

Lalu, apa langkah selanjutnya untuk project #TulisSurat?
Saya tak bisa bekerja sendiri. Oleh karenanya, saya butuh orang-orang yang mau turut serta menyukseskan project ini. Bisa menyebarluaskan via online atau bahkan ikut menulis dengan mencantumkan tagar #TulisSurat di setiap suratnya.

Bagaimana untuk menjadi bagian dari project #TulisSurat?
#TulisSurat untuk saya. Mari kita menjalin pertemanan. Untuk mendapatkan alamat pos saya, sila kirim pesan ke 087-838-208-166.

Salam Surat! :)

Gambar diambil dari sini

6 November 2013

(Masih) Mencintai dengan Sederhana

YEYEYELALALA~

Tambah tua, umurku tambah tua. Dua puluh dua, oh dua puluh dua. Tapi tetap, aku dan mereka mencintai (-ku) dengan sederhana. #apasih :D

Tak perlu bermuluk-muluk mencintai seseorang. Ungkapan cinta tak selalu tentang materi 'kan? Ini buktinya. I was very happy when she posting on her blog. Thank you~ :*


Just it.
Apa yang membuatmu senang, coba berikan kepada orang lain. Sederhana, bukan?

Tidak. Aku tidak sedang berharap pemberian orang lain. Tapi, inilah yang sedang aku usahakan. Mencintai orang lain dengan sederhana. Cukup memberi apa yang kita sukai, bukan memberi apa yang tidak kita butuhkan. Semoga kita diberikan rasa ikhlas untuk menjalaninya :)

*terima kasihku untukmu (sekalian), yang mencintaiku dengan sederhana.

4 November 2013

Untuk Ken

Bulan purnama. Bayangan Ken semakin sulit kulihat. Hanya kecantikan cahaya yang menerangi bumi. Tanpa Ken. Tanpa kamu, Ken.

Suara merdu tapak kakimu juga semakin sulit kudengar. Meski tanpa kebisingan. Ah, benar. Malam purnama ini mengheningkan ragaku. Kau pulang tanpa kata sayang!

-Jedi.

1 November 2013

[Project] #TulisSurat Kedua

Tentang project #TulisSurat, bisa dibaca di sini. Ini merupakan surat kedua dari project tersebut. Surat pertama, dirahasiakan. Hehe.

--Surat ini saya tujukan kepada sahabat (kecil) saya di Pekalongan. Lahir pada tanggal 5 November 1991, tepat satu hari sebelum saya.
____________________________________________________________________________

#TulisSurat Kedua: Jogja, 1 November 2013.

Kata pertama yang ingin aku ucapkan sebelum semuanya: memanggil namamu!
BAAHRAAAAAAAAAAAAAAAIIIIIIIIIIIIIIIINN
*HOSH, HOSH, HOSH* Bismillahirrohmaaanirrohiim.
Assalamu’alaikuuuum...
Haloooo. Appaaa kabbaaarr teman (masa) kecilkuuuuu? :”
Kabarku, alhamdulillah masih diberi beban dalam mengerjakan skripsi. Itu artinya, aku masih punya rasa tanggung jawab untuk meluluskan diriku sendiri. Haha, coba kalau tidak? Mungkin aku akan memutuskan untuk menjadi mahasiswa abadi (Na’udzubillaaaaaah >,<)
Sebelum aku menerocos banyak hal, aku ingin menegaskan bahwa ini adalah surat. Bukan sekedar kartu ucapan atau sejenisnya yang didesain dengan sedikit tulisan. Sekali lagi, ini surat yang mengandung kalimat lebih banyak dari kartu ucapan lainnya.
Sedikit bercerita, aku sesungguhnya rindu menulis surat. Untuk siapapun, dalam hal apapun. Proyek ini aku namakan #TulisSurat. Makanya, jangan heran kalau di kertas ini, di kanan atas, ada tulisan tersebut. Karena ini adalah tulisan dalam bentuk surat-ku yang kedua; surat sebelumnya sudah aku kirim dan diterima oleh ‘yang berhak’. Haha. Oleh karenanya, setelah tanda proyek #TulisSurat di atas itu, aku beri kata kedua J Itu artinya, kamu orang kedua yang aku kirimi surat, Reeeen. Selamat yaaaaa. Hahahahaha, emang bahagia? :p
Btw, sebenernya sampai sekarang aku masih bingung bagaimana aku harus memanggilmu: Rain, Ren, atau justru Yen? Kau lebih suka yang mana? Jujur! :D
Hh, tak terasa lebih dari 10 tahun kita berteman ya? Dari mulai nyepeda bareng, jajan bareng, dolan bareng, bandel bareng, daaaaaan berbagai hal lain yang bareng-bareng. Oya, curhat bareng! Haha. Piye kamu? Sekarang sama siapa? Jadi rindu bergosip ria sama kamu :* Pokoknya besok kalau aku pulang ke Pekalongan, kita kudu jalan-jalan! Sebelum masing-masing dari kita menikah, kudu menggila sek. Hahahahaha. Trus kamu juga harus cerita tentang pasanganmu itu, lengkap tanpa jeda. Oke mbak Bro? Sip.
Aku gak tahu surat ini bakal sampai di tanganmu tanggal berapa. Yang pasti sebenarnya aku pengen banget kalau surat ini kamu buka di tanggal bahagiamu. Satu hari sebelum tanggal bahagiaku. Nah, ini yang paling aku inget sampai sekarang ketika tanggal bahagiaku tiba. Kamu juga sedang berbahagia di tempatmu sana –satu hari sebelumnya. Lucu rasanya, jika kita bisa merayakannya bersama-sama. Aku – kamu. Ulang tahun bareng, berpesta bareng. Yok, kapan-kapan. Semoga tahun depan kita masih dipersilakan melakukan yang sedemikian itu, ya. Amin.
Hah, akhirnya. Sampai juga di kertas berikutnya. Nyerocosku sudah banyak banget. Kalau kamu mau, boleh lho, bales surat ini. Pakai tagar #TulisSurat seperti di atas itu. Itung-itung bernostalgia dengan kata dan kertas, bukan lagi surat digital semacam e-mail, sms, atau bahkan bbm-whatsapp. Ini gak wajib, gak sunnah, gak makruh, juga gak haram. Hehe.
Sebelum kuakhiri surat ini, aku pengen ngucapin:

Selamat Ulang Tahuuuun,
Bahrain Dwi Masitoh, S.Pd.

Eh, bener kan tulisannya begitu? Haha, kalau salah, benerin sendiri ya :P
Pokoknya selamat atas pencapaian hidupmu saat ini. Selamaaaat, selamat, selamaaat! *jabat-tangan*
Semoga barokah, manfaat dunia-akhirat. Semoga diberi kemudahan untuk urusan hidupmu kelak. Semoga didekatkan jodohnya, yang baik bagi dirimu dan orang-orang di sekitarmu. Semoga semakin solihah! Aaamiiiiiiin :*
Oya, doakan juga semoga aku bisa mengikuti jejakmu secepatnya. Maaf juga kalau banyak salah kata maupun laku, di manapun dan kapanpun. Semoga untaian doa darimu dan keikhlasanmu memaafkanku akan memudahkan jalan hidup kita berdua. Semoga. J
Akhir kata, alhamdulillahi robbil ‘alamin.
Wassalamu’alakum warahmatullahi wa barokaatuh.

Salam Rindu,
Ihya J

22 Oktober 2013

Nyanyian Rindu

Merindu Rasul-Mu.
Mengapa tak pernah terkibas dalam benak?
Santun perangainya telah menjajah kalbu!

Tidakkah Tuhan kami menyadari yang tak tersadari kami?
Membayang junjungan-Nya,
menebar nyanyian syahdu salawat atasnya
beriring tetesan air; menggemericikkan bumi.

Syahdu. Merindu Rasul-Mu.

17 September 2013

[Falifal] Akhirnya, Kau Genggam Mimpimu!

Hari Kamis, 5 September 2013 pukul 07.45 WIB. Dering handphone-ku berbunyi. SMS masuk. Tertera dalam layar, nama sang pengirim: Gongsin Ifal Bu Wulan.

*Bukan, sesungguhnya bukan itu nama lengkapnya. Ya biasalah, untuk memudahkan pengelompokan kontak di hape, maka kubuatlah nama seperti itu. Gabungan antara Gongsin - Ifal - Bu Wulan. Gongsin, merupakan nama lembaga bimbingan belajar; Ifal, adalah nama anak kelas XII SMA yang ku(h)ajar; dan Bu Wulan adalah nama Ibunya. Nah, nama seharusnya adalah: Bu Wulan.*

Begini isi SMS-nya:
Ass.mbk2 Alhamdulillah ifal hr ini peng STAN di trima ,kami sekelrga trimakasih byk atas doa ,bimbingan, dukungan mbk2 semua. Semoga menjd amal ibadah mb2 sekalian

Sederhana. Poinnya: Ifal diterima di STAN!
Sungguh, aku menjerit seketika membaca SMS itu. Alhamdulillaah.

Usahamu berbuah manis, Fal. Gak sia-sia kan, 'kunci jawaban'-ku waktu itu? :p
Ah, sayangnya gak bakal ada latihan nge-drum gratis! Haha. Sip-lah pokoknya, baik-baik di sana ya. Oya, bandel itu tetep perlu kok Fal. Perlu, untuk menaklukkan dunia :)

Edisi [Falifal] lainnya:
Bukti Kelulusan Tes Tulis STAN 2013

3 September 2013

Menghilangkan 'Aku' dari Jiwaku

*Malam tadi, saya tidak sengaja membuka-buka file di laptop. Niatnya sih, untuk mencari beberapa hasil kerja. Namun, tak disangka tulisan ini muncul di antara sekian banyak 'simpanan'. Maka, kuputuskan untuk mem-publish-nya di blog. Bukan apa-apa, hanya berniat menjaganya supaya tidak punah. Hehe

Aku duduk termenung di bibir ranjang. Memikirkan sesuatu hal yang tidak terlalu aku pahami. Waktu itu umurku masih sekitar 4 tahun, tetapi pikiranku sudah terlampau hingga ke sana. Sesekali aku mengabaikan pikiran-pikiran itu. Aku terlalu takut untuk mengingatnya. Membuangnya jauh-jauh hingga saat itu tiba lagi.
Tak berapa lama Ibu dan Bapak datang ke kamar. Kami selalu tidur bersama. Seperti biasa, aku menempatkan diriku di ranjang bagian tengah, diantara Bapak dan Ibu. Sudah satu jam lamanya mataku belum juga terlelap. Aku terganggu. Terganggu dengan suara-suara itu. Aku terganggu oleh diriku sendiri. Aku terganggu oleh barang-barang di sekitarku. Aku terganggu oleh semuanya. Segala hal yang ada disampingku, kecuali tubuh Bapak Ibuku.
Malam ini adalah malam kesekian kalinya aku merasakan hal ini. Ketika Bapak Ibu sudah terlelap, aku masih terjaga. Menahan telingaku untuk tidak mendengar suara-suara menyeramkan itu. Menguasai diri untuk bisa melepas kejahatan yang menyerang jiwaku. Menutup mata kencang-kencang agar aku tak melihat sesuatu yang menakutkan, walaupun sebenarnya aku tak pernah melihatnya.
Aku tak pernah menceritakan kisah ini pada siapapun, termasuk Bapak Ibu. Kala itu aku sudah tahu bahwa ini adalah sesuatu yang tidak wajar. Sesuatu yang tidak wajar akan menjadikan Bapak Ibu tidak mudah mempercayainya. Aku tak mau dikira mengada-ada. Dan aku meyakinkan diri bahwa aku bisa menghadapinya.
Kejadian ini tak hanya menyerangku ketika aku beranjak tidur. Bahkan tak jarang ia mendatangiku saat aku jatuh sakit. Semakin parah sakit panasku, maka semakin parah pula kelakuannya. Mendatangiku setiap saat, setiap waktu. Tak peduli aku sedang bersama siapa. Ia hadir secara tiba-tiba, mengganggu jiwaku. Ah, entah apa maksudnya. Yang kutahu dia hanya bisa mengganggu. Tak pernah sekalipun membantu ataupun menghiburku.
Mereka adalah pericuh kebahagiaan masa kecilku. Mereka membuat diriku menjadi cengeng, pendiam, dan selalu merasa takut terhadap siapapun. Termasuk saudara-saudaraku. Aku tak pernah mau digendong selain Ibu dan pembantuku. Aku selalu menangis jika ditinggal oleh Ibu dan Bapak. Aku harus ditemani, tak mau ditinggal sendiri.
Terakhir mereka menyerangku adalah ketika aku masih duduk di bangku sekolah. Waktu itu aku sedang sakit demam, dan tiba-tiba ia hadir lagi setelah sekian lamanya. Menggangguku lagi. Ia membuat diriku menjadi merasa seperti raksasa, tubuhku seakan membesar. Pembesaran tubuh ini dimulai dari jari-jari tangan, pergelangan tangan hingga akhirnya kaki dan jari-jarinya. Pernah sesekali aku katakan pada Ibu bahwa tanganku membesar, dan kusuruh beliau memegangnya. Akan tetapi, beliau tak pernah menanggapinya secara serius. Beliau hanya berkata, “Ah, gak kenapa-napa kok. Tak ada yang membesar, ukuran tanganmu masih seperti biasa..”
Tak hanya sampai disitu, makhluk menyebalkan dan teman-temannya itu juga menggangguku melalui suara. Suaranya berat dan keras, membuat telingaku tak pernah berhasil menghilangkannya. Mereka menuduhku macam-macam. Mereka memarahiku karena banyak hal. Menudingku berbuat segala sesuatu yang salah. Seakan aku tak pernah berbuat benar.
Mereka juga menggangguku lewat barang-barang disekitarku. Menjadikan aku tak berani memegang apapun. Kain-kain disampingku serasa menjijikkan. Termasuk kain yang menempel di tubuhku. Memegang tubuhku pun aku tak berani. Bahkan seprai, selimut, bantal, juga terasa menjijikkan bagiku saat itu. Jari-jari tanganku selalu kubuat membuka untuk menghindarinya. Hingga lama-kelamaan tubuhku mengecil dengan sendirinya.
Lama aku mencoba membuang jauh-jauh perasaan itu. Tak banyak berhasil. Hingga akhirnya aku mencoba memejamkan mata sekeras-kerasnya dan berkomat-kamit mengucap doa. Memohon bantuan dari Yang Maha Kuasa. Dan akhirnya aku terlelap.
Sekali waktu pernah juga aku merasakannya lagi. Hampir-hampir seluruh barang yang ada disampingku, aku lempar. Kain yang menempel di tubuh, aku lepaskan. Lantai saja terasa ngeres semuanya. Tak ada yang beres dengan tubuh dan lingkunganku. Segalanya terasa menyebalkan.
Berkat ide kakakku yang waktu itu kebetulan ada disampingku, aku dibawa ke kamar mandi. Seluruh pakaian yang aku pakai dilepaskannya, tubuhku diguyur air sebanyak-banyaknya. Aku terus mengerang, menolak perlakuan kakakku. Aku dipakaikan baju bersih, diambil langsung dari lemari. Semuanya bersih sekarang. Dan aku merasa lebih tenang.
Kejadian semacam itu berlangsung hingga sekarang. Masih terkadang datang secara tiba-tiba. Akan tetapi, sejak saat itu aku tahu bahwa aku membutuhkan sesuatu yang bersih dari tubuh dan lingkunganku. Ketika mereka datang lagi, aku harus segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, membasahinya. Beberapa kali aku cukup meregangkan jari-jariku untuk menghindari pembesaran tubuh. Dan benar, aku mampu mengatasinya. “Tuhan tak pernah membebani hambaNya dengan sesuatu yang tak mampu diembannya.”

Yogyakarta, 17 Juni 2011

* Karya ini diikutkan dalam lomba Hate ½ Mati yang diadakan oleh Diva Press dan termasuk dalam sepuluh karya terbaik.

Gambar yang (Tak) Tergambar

*Malam tadi, saya tidak sengaja membuka-buka file di laptop. Niatnya sih, untuk mencari beberapa hasil kerja. Namun, tak disangka tulisan ini muncul di antara sekian banyak 'simpanan'. Maka, kuputuskan untuk mem-publish-nya di blog. Bukan apa-apa, hanya berniat menjaganya supaya tidak punah. Hehe 

Seandainya saya bisa menggambar, mungkin gambaran bayang semu itu akan terlihat lebih jelas.

Akan kubuat semacam gambar kotak dengan warna-warni ceria yang indah. Dan kau tahu apa itu?
Kotak yang di dalamnya tercantum dua huruf besar-besar. Sangat besar. Setidaknya itu bisa menjadi bukti kecil bahwa kami sangat bahagia dan yakin dengan apa yang kami putuskan. Sebelum ada bukti-bukti kebahagiaan lain yang lebih menakjubkan. Kotak yang mencantumkan nama lengkap kami, nama kedua orangtua kami, dan waktu mendebarkan bagi seluruh hati kami. Semoga seluruh alam merestui.

Akan kubuat semacam kursi panjang, tiga buah, yang dibelakangnya terdapat bunga-bunga mekar dengan ukiran kayu cemerlang. Dan kau tahu apa itu?
Yang pada hari di saat seluruh hati berbahagia, kami duduk di atas kursi itu. Begitu pula dengan kedua orangtua kami. Tersenyum, membagikan kebahagiaan kepada seluruh orang yang hadir. Tertawa, mengingat kebodohan kecil yang kami dan mereka lakukan saat itu. Menyipit, mengingat kejadian sebelum kami duduk di kursi istimewa itu. Hingga tetesan air mata pun tak mampu dibendung. Bu, Pak, restui kami..

Akan kubuat pula semacam segitiga dan kubus sederhana, merah-putih. Dan kau tahu apa itu?
Yang menjadi saksi bisu perjuangan kami. Menemani kebahagiaan dan kesedihan yang kami jalani. Menertawakan kekonyolan-kekonyolan kehidupan kami. Memberi keteduhan ketika kami berada di ambang ketidakpuasan. Menahan kami untuk selalu bersama.

Akan kubuat semacam garis lurus dengan lingkaran di atasnya, dan memiliki empat garis lurus lain yang lebih kecil yang terhubung dengan garis lurus utama. Dan kau tahu apa itu?
Yang memberi warna pada kehidupan kami. Mengusap peluh kami dengan canda. Menyambut ketika kami sejenak bebas dari penat. Membawa kami pada kebahagiaan keluarga yang sesungguhnya.

Sempurna sudah gambar itu.

Tapi kini kembali kosong, kertas itu masih putih sempurna. Bahkan saya tak bisa menggambar, Tuhan.

27 Oktober 2012, 17:24 WIB
Picanto G
Dalam perjalanan menuju Brebes

Celoteh 'Kerupuk'

*Malam tadi, saya tidak sengaja membuka-buka file di laptop. Niatnya sih, untuk mencari beberapa hasil kerja. Namun, tak disangka tulisan ini muncul di antara sekian banyak 'simpanan'. Maka, kuputuskan untuk mem-publish-nya di blog. Bukan apa-apa, hanya berniat menjaga supaya tidak punah. Hehe. 
Siapa sangka kerupuk menjadi makanan (kesukaan) saya dan beberapa pecinta lainnya? Kerupuk yang tidak baik bagi kesehatan, kerupuk yang hanya begitu-begitu saja, kerupuk yang memang tidak terlihat istimewa, kerupuk yang murahan, dan berbagai statement buruk lain yang bisa dilontarkan untuk makanan macam kerupuk. Akan tetapi, walaupun ada seratus macam statement seperti itu, saya tidak yakin akan menyurutkan niat saya untuk makan kerupuk.
Bagi saya, kerupuk menjadi salah satu ‘sumber’ rasa makanan. Pernah merasakan makanan hambar ‘kan? Nah, makanan hambar akan menjadi sangat nikmat ketika dikombinasikan dengan kerupuk. Itulah alasan utama saya untuk selalu menyediakan kerupuk di ‘meja makan’.
Menurut KBBI, kerupuk adalah makanan yang dibuat dari adonan tepung dicampur dengan lumatan udang atau ikan, setelah dikukus disayat-sayat tipis atau dibentuk dengan alat cetak dijemur agar mudah digoreng. Dan saya tidak menyangka bahwa kata kerupuk itu berhomonim. Masih merujuk ke KBBI, arti kedua untuk kata kerupuk adalah kebingungan; tergopoh-gopoh; gugup. Lalu, apa hubungannya antara arti pertama dan kedua itu?
Saya berniat ‘iseng’ untuk menarik benang merah antara keduanya. Walaupun saya tahu bahwa kata yang berhomonim itu wajar jika memiliki arti yang jauh berbeda. Seperti kata bisa yang saya yakin antara arti pertama, ‘dapat’ dan arti kedua, ‘racun’ itu lebih sulit dicari titik temunya.
Berdasar pengalaman saya yang juga sudah saya ceritakan sebelumnya, salah satu alasan utama saya makan kerupuk adalah penambah rasa. Saya tidak pandai mengira-ngira seberapa banyak saya harus menambahkan garam, kecap, merica, dan semacamnya dalam makanan saya. Saya adalah orang yang terima jadi. Nah, untuk mengatasi kebimbangan saya dalam masalah rasa makanan, kerupuk menjadi salah satu jalan keluarnya.

Mungkin itulah garis penghubung antara kerupuk satu dan dua bagi saya. Kebingungan, tergopoh-gopoh, gugup akan rasa makanan membuat saya harus lari ke penambah rasa yang dibuat dari adonan tepung dicampur dengan lumatan udang atau ikan. Begitu pula yang saya lakukan saat ini: kebingungan akan tema tulisan menjadikan saya harus berbicara tentang kerupuk!